Reportase Buser Siaga - Medan (16/4/2026) |Aksi garang Bobby Asmara yang sempat menggegerkan jagat maya menangis saat diperiksa Polisi Polsek Sunggal akhirnya "gool" di jeruji Polsek Sunggal. Pria yang dikenal sebagai preman kampung ini tak lagi bisa berkutik setelah diringkus unit Reskrim Polsek Sunggal dikediamannya Rabu (15/4/2026)
Penangkapan Bobby memang awalnya tak berjalan mulus, suasana sempat memanas ketika pihak keluarga mencoba menghadang petugas, adu mulutpun tak terhindarkan saat Polisi hendak membawa pelaku, meski bukti vidio aksi brutalnya telah diperlihatkan "Memang sempat ada penghadangan dari keluarga, namun kami tetap bertindak tegas sesuai prosedur," tegas AKP. Harles Gultom.
Dibalik sikapnya yang sebelumnya sempat beringas Bobby justru langsung "melempem" dan nangis saat diinterogasi, tanpa banyak bantahan. Ia mengakui bahwa sosok dalam vidio viral yang menyiram bensin itu dan yang mengancam membakar warung adalah dirinya.
Peristiwa itu sendiri dipicu hal sepele, namun berujung serius, Bobby emosi setelah permintaan uang setorannya sebesar 250 ribu rupiah ditolak oleh pemilik warung Ibrahim, dalam kondisi marah, ia nekat membawa sajam, menciptakan ketakutan di lokasi kejadian
Aksi tersebut terekam warga dan menyebar cepat di media sosial, memantik kecaman luas dari publik, banyak yang geram dengan tindakan premanisme yang dinilai meresahkan masyarakat kecil
Dari pantauan Reportase Buser Siaga kini Bobby hanya bisa tertunduk lesu, dari sosok yang sebelumnya tampil intimidatif ia berubah menjadi tersangka yang harus mempertanggungjawabkannya diruangan pemeriksaan Juper Polsek Sunggal.
Polisi menjerat Bobby dengan pasal berlapis terkait pengancaman dan pemerasaan, dengan ancaman hukuman penjara lebih dari lima tahun
"Pelaku sudah diamankan dan saat ini menjalani pemeriksaan intensif," Ujar Kanit Reskrim Polsek Sunggal AKB. Harles Gultom.
Berdasarkan penuturan Ibrahim sang pemilik warung ia mengaku awalnya diminta uang dengan dalih setoran organisasi, namun karena kondisi ekonomi yang terbatas, ia memilih menolak keputusan yang nyaris berujung petaka bagi dirinya.
Kasus ini menjadi ingatan bahwa aksi premanisme sekecil apapu tak lagi mendapat ruang, di era digital, satu rekaman bisa menjadi bukti yang dapat menyeret pelaku langsung kehadapan hukum (Bernan Simanjuntak)
.jpeg)


Social Header