Breaking News

Menjawab Stagnasi, Mentok Tata Ulang Sejarah Lewat Proyek Kota Tua

Penandatanganan Kerja Sama Kepala DP3APKB dengan RSIA Dzakirah Pangkalpinang, Kamis (23/04/2026)


MENTOK, BANGKA BARAT — Pemerintah Kabupaten Bangka Barat memulai langkah strategis dalam menata ulang Kota Mentok melalui pembangunan kawasan kota tua dengan konsep Kluster Eropa, sebuah proyek yang diarahkan tidak hanya untuk mempercantik ruang kota, tetapi juga menjadi penggerak ekonomi, penguat identitas sosial dan revitalisasi nilai sejarah yang lama terdiam.

Proyek yang berpusat di kawasan Taman Lokomobil dan Lapangan Gelora ini didanai sepenuhnya oleh pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum Republik Indonesia. Tanpa membebani anggaran daerah, pembangunan ini diposisikan sebagai peluang besar untuk mempercepat pertumbuhan sekaligus menguji kesiapan Bangka Barat dalam mengelola perubahan.

Pelaksana Tugas Kepala BKPSDM Bangka Barat, Heru Warsito, menegaskan bahwa momentum ini tidak boleh dilewatkan.

“Ini bukan menggunakan APBD. Artinya, daerah mendapatkan kesempatan besar untuk berkembang tanpa membebani anggaran lokal. Harapannya, ini mampu menggerakkan perekonomian masyarakat dan membawa Mentok menjadi lebih maju,” ujarnya.

Secara konseptual, Kluster Eropa dirancang sebagai kawasan wisata berbasis sejarah dan arsitektur yang diharapkan mampu meningkatkan aktivitas pariwisata, mendorong pertumbuhan UMKM lokal, membuka lapangan kerja, serta memperkuat identitas Kota Mentok sebagai kota tua yang memiliki nilai historis tinggi.

Sekretaris Daerah Bangka Barat, Abimanyu, menempatkan proyek ini dalam kerangka transformasi ruang yang lebih luas dari masa lalu menuju masa depan.

“Dulu ini hanya hamparan rumput. Orang-orang menggembalakan sapi dan kambing di sini. Sekarang berubah dan akan kembali berubah,” tuturnya.

Pernyataan itu bukan sekadar nostalgia, melainkan penanda bahwa ruang hidup masyarakat tengah mengalami pergeseran mendasar. Dari lanskap agraris yang sederhana, kawasan ini bergerak menuju ruang ekonomi baru yang dibangun di atas memori sejarah dan potensi pariwisata.

Namun perjalanan menuju titik ini tidak tanpa hambatan. Rencana pembangunan yang telah disusun sejak 2023 melalui Detail Engineering Design (DED) sempat tertahan oleh pandemi COVID-19 dan penyesuaian anggaran nasional. Nilai proyek yang semula diperkirakan mencapai sekitar Rp 65 miliar mengalami pengurangan signifikan.

Meski demikian, pemerintah daerah menegaskan bahwa esensi pembangunan tidak terletak pada besaran anggaran, melainkan pada keberlanjutan dampaknya.

“Tidak masalah anggarannya berkurang. Yang penting proyek ini berjalan dan bisa mengubah wajah Kota Mentok,” kata Abimanyu.

Di sisi lain, pembangunan ini juga menjadi respons atas kegelisahan masyarakat yang selama ini mempertanyakan lambannya perubahan di Mentok.

“Masyarakat sudah lama bertanya, kenapa Mentok tidak berubah-ubah. Bahkan dibandingkan daerah lain, kita dianggap tertinggal,” ungkapnya.

Kluster Eropa, dalam konteks ini, bukan sekadar proyek fisik, melainkan jawaban atas krisis kepercayaan publik. Ia hadir sebagai simbol bahwa perubahan yang lama ditunggu mulai menemukan bentuknya.

Lebih jauh, pemerintah daerah menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan ini. Sosialisasi yang dilakukan tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif tentang arah masa depan kota.

Di titik ini, pembangunan tidak lagi menjadi domain pemerintah semata. Ia berubah menjadi ruang bersamandi mana masyarakat berperan sebagai pelaku ekonomi, penjaga nilai budaya, sekaligus pengawas arah kebijakan.

Namun di balik seluruh kerangka teknis dan strategi pembangunan, terdapat narasi yang lebih dalam tentang bagaimana sebuah kota mencoba berdamai dengan masa lalunya untuk menyusun masa depan.

Di tanah yang dulu hanya dipijak oleh langkah ternak, kelak akan berdiri bangunan yang merepresentasikan sejarah baru. Di ruang yang dahulu sunyi, akan hadir riuh aktivitas manusia. Di antara keduanya, Mentok sedang belajar menjadi kota yang tidak hanya mengingat, tetapi juga bergerak.

Kluster Eropa bukan sekadar tentang estetika arsitektur. Ia sebagai upaya menghidupkan kembali denyut kota, mengubah ingatan menjadi kekuatan, dan sejarah menjadi sumber ekonomi.

Kini, Mentok berdiri di persimpangan waktu. Antara warisan masa lalu yang kuat dan masa depan yang sedang dibangun dengan harapan.

Apakah pembangunan ini akan benar-benar menghidupkan atau hanya memperindah tanpa menggerakkan, masih menjadi pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab.

Namun setidaknya, satu langkah telah diambil.

Di tengah suara alat berat, doa masyarakat, serta harapan yang kembali dititipkan pada waktu, Pemkab Bangka Barat sedang menulis ulang cerita Mentok, bukan sebagai kota yang tertinggal tetapi sebagai kota yang memilih untuk bangkit dari sejarahnya sendiri.
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
Hosting Unlimited Indonesia
© Copyright 2022 - REPORTASE BUSER SIAGA | SUPPORT PIXINDONESIA DIGITAL SOLUTION